Kewajiban Puasa Ramadhan



26 Februari 2019


Ceramah Ramadhan 2 - Kajian Surat Al-Baqarah ayat 183 Kewajiban Puasa Ramadhan

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalianberpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”. (Q.S. Al Baqarah [2]: 183)

 

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, melalui ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berbicara kepada orang-orang beriman dari kalangan umat ini dan memerintahkan shaum kepada mereka.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, bahwa apabila sesuatu ayat dimulai dengan panggilan : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا “Hai orang-orang yang beriman”, berarti menunjukkan bahwa ayat tersebut mengandung perihal yang begitu penting atau berupa suatu larangan yang berat.

Karena itulah, setiap orang yang merasa di dalam dirinya ada iman, tentu akan bersedia mengubah kebiasaannya, menahan nafsunya, bersedia bangun malam untuk makan sahur. Lalu bersedia menahan diri dari makan, minum, dari berhubungan suami isteri, sejak terbit fajar hingga maghrib, selama bulan Ramadhan. Ia tentu siap menahan lapar dan dahaga demi menggapai kemuliaan shaum Ramadhan, demi mencapai ridha Ilahi.

Shaum secara bahasa berasal dari kata : صَامَ – يَصُوْمُ – صَوْمًا – وَصِيَامًا  artinya : menahan diri dari sesuatu.

Di dalam Al-Quran Surat Maryam disebutkan :

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya : “Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam [19]:  26).

 

Sedangkan secara istilah shaum artinya menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami isteri, dari waktu fajar sampai waktu maghrib dengan niat ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ikhlas adalah semata-mata mengharap wajah (ridha) Allah, tidak ada tujuan lainnya. Di dalam Tafsir Al-Jalalain dikatakan bahwa ikhlas artinya bersih dari syirik.

Pentingnya niat dalam melaskanakan ibadah shaum dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits :

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامِ قَبْلَ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Artinya : “Barangsiapa tidak berniat shaum sebelum fajar, maka tidak ada shaum baginya”. (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i).

 

Kewajiban Shaum Umat Terdahulu

 

Pada ayat yang artinya, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Hal ini mengandung makna bahwa sesungguhnya Allah subhanahu Wa Ta’ala telah mewajibkan shaum atas umat-umat sebelum mereka. Dengan demikian berarti mereka mempunyai teladan dalam shaum. Ini memberikan semangat agar orang beriman menunaikannya secara lebih sempurna dari apa yang pernah ditunaikan orang-orang sebelum mereka.

 

Ibadah shaum pada permulaan zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat dilakukan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh umat-umat terdahulu, yaitu shaum tiga hari dalam setiap bulannya.

 

Di dalam Tafsir Al-Maraghi disebutkan, ibadah shaum telah diwajibkan kepada orang-orang beriman sejak nabi Adam ‘Alaihis Salam. Di dalam Surat Maryam disebutkan, bahwasanya Nabi Zakaria ‘Alaihis Salam dan Maryam ibu Nabi Isa ‘Alaihis Salam pun mengerjakan shaum.Memang, ibadah shaum merupakan ibadah yang berat. Sesuatu yang berat jika diwajibkan kepada kebanyakan orang, maka bagi yang bersangkutan akan menjadi ringan melaksanakannya. Sama halnya dalam kehidupan sehari-hari, kalau dilaksanakan secara bergotong-royong, bersama-sama, hidup berjama’ah, insya Allah semua beban probelatika menjadi ringan. Pepatah mengatakan, ”Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.

 

Tujuan Shaum Ramadhan

 

Adapun Tujuan disyari’atkannya shaum Ramadhan adalah,“agar kalian bertaqwa”. Ujung ayat ini merupakan tujuan shaum yakni mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah. Caranya adalah dengan meninggalkan keinginan yang mudah didapat dan halal, demi menjalankan perintah-Nya. Dengan demikian mental kita terlatih di dalam menghadapi godaan nafsu syahwat yang diharamkan, dan kita dapat menahan diri untuk tidak melakukannya.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan di dalam firman-Nya :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yusuf  [12]: 153).

 

Tidak sedikit manusia tergelincir ke jurang neraka akibat tidak dapat mengendalikan hawa nafsu dirinya, terutama yang dilakukan oleh mulut dan kemaluannya.

 

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Artinya :Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang penyebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Maka beliau menjawab, “Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik”. Dan beliau ditanya tentang penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Beliau menjawab, ”Mulut dan Kemaluan.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

 

Dengan shaum Ramadhan sebulan penuh akan terlatih jiwa pengendalian diri. Bagaimana tidak, kalau di segala waktu dilarang memakan makanan yang haram, maka di bulan Ramadhan, makanan yang halalpun dilarang. Bercampur dengan isterinya yang semula halal pun menjadi terlarang. Itu semua dilakukan karena kadar imannya yang membimbingnya menjadi manusia terkendali. 

 

Walaupun mungkin berada di tempat terpencil, seorang diri, tetapi kadar imannya menahannya agar jangan sampai melanggar aturan-Nya. Dengan demikian orang-orang beriman mendidik kemauannya serta mampu mengendalikan hawa nafsunya, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nafsu yang dikendalikan yakni nafsu perut dan nafsu syahwat. Kalau keduanya ini tidak terkendali, maka manusia akan terjerumus ke dalam lembah nista, terjerembab ke dalam makanan haram, berbuat maksiat, dan menumpuk dosa.

Maka menjadi sangat jelas bahwa tujuan utama shaum Ramadhan dengan latihan pengendalian diri seperti disebutkan pada ujung akhir ayat 183 surat Al-Baqarah, adalah agar yang melaksanakannya menjadi orang bertaqwa.

 

Dengan makna taqwa tersebut maka shoimun terdidik untuk senantiasa berjihad menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjauhi meninggalkan segala larangan-Nya. Shoimun akan terbiasa untuk selalu waspada, menjaga diri, dan berhati-hati terhadap sesuatu, yakni berhati-hati terhadap rambu-rambu syariat yang telah ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berupa perintah dan larangan. Sebagaimana Umar bin Khattab ketika ditanya tentang taqwa, beliau mengatakan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Umar, ”Seperti itulah taqwa.”

Taqwa menjadi wasiat abadi karena mengandung kebaikan dan manfaat yang sangat besar bagi terwujudnya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Taqwa merupakan kumpulan dari semua kebaikan dan pencegah segala kejahatan. Dengan taqwa, seorang mukmin akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan taqwa pula seseorang menjadi mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebaliknya, tanpa taqwa, istri dan anak yang kita cintai bisa berubah menjadi fitnah dan musuh, harta yang kita miliki dapat menjadi malapetaka. Sementara pekerjaan, pangkat, dan kedudukan yang kita punyai berubah menjadi beban dosa. Di hadapan Allah tidak ada gunanya, bahkan menjadi penyesalan yang berkepanjangan. Akibat menggadaikan taqwa dengan dosa, melepas taqwa diganti dengan kemaksiatan.

 

Semoga kita dapat berjumpa, berpuasa dan beramal kebajikan semaksimal mungkin pada bulan Ramadhan tahun ini, dan semoga dapat meningkatkan derajat taqwa kita di hadapan Allah. Aamiin

 

 

 

Sumber: Ali Farkhan Tsani,S.Pd.I.(Penulis Pengasuh Rubrik Selamat Datang Ramadhan)